ADA ANGIN YANG PLESIR
dari beribu batang bambu. Dari puncak bukit yang sepi, suara batang
yang saling meliuk menggesek itu seperti jerit demit. Jejerit yang
mengantar angin malam itu memasuki perkampungan. Anak-anak begidik.
Jendela diengsel.Pintu-pintu digembok. Api di tungku mestilah padam.
Sesiapa
saja di kampung itu tahu, lolong bambu yang datang dari bukit itu
bernafas. Dia dihembuskan melewati sisi-sisi bukit di kiri dan kanannya.
Melintas menuju lereng sebelum tiba di lurah. Di perkampungan yang ada
di dataran paling rendah. Dan sesiapa juga tahu, setiap nafas yang
dihembuskan mestilah dihidu kembali. Soal itu mungkin biasa, tapi di
kampung itu berbeda. Karena apa yang dihidu bukit-bukit gelap itu ialah
nyawa.
Bisa kambing, ayam, sapi, anjing, tapi lebih sering
manusia.Bukan sekali dua kali. Biasanya bukit itu bernafas tiga kali
dalam dua kali panen padi. perkampungan itu dibuka pada awal tahun 80-an
lantaran program transmigrasi pemerintah.
Dan sejak awal itu
pula, selalu ada nyawa yang moksa tiap kali bukit itu menghidu. Kali
pertama warga menemukan jasad seekor kambing di gapura kampung. Kali
berikutnya seekor kerbau di sawah di belakang kampung. Dan setelah
kematian kerbau itu, menjelang akhir tahun barulah warga mendapati
sesosok tubuh manusia di jalan setapak menuju ladang coklat, tak jauh
dari perbatasan kampung dan hutan bukit setan itu.
Jasad itu tubuh
seorang laki-laki. Tak ada yang mengenalinya. Tak pula ada
identitasnya. Kantor polisi berpuluh-puluh kilometer jaraknya dari
kampung itu. Transportasi tak ada. Warga yang tak ingin menerima bala
dengan sukarela memakamkannya di sisi kiri lereng bukit terkutuk itu.
Tak ada anak-anak yang berani ke sana.
Di tahun kedua, kembali
terjadi hal serupa. Hanya saja kali ini urutannya berbeda. Kali pertama
justru sesosok tubuh manusia mati di gerbang desa. Lagi-lagi tak ada
yang mengenalinya. Identitasnya pun tak ada. Seperti ada yang
membuangnya disana. Tapi warga tak pernah mendengar adanya deru
kendaraan yang lintas malam sebelumnya. Jasadnya dimakamkan berdampingan
dengan si lelaki pertama. Baru kejadian berikutnya mati lagi seekor
kerbau dan menyusul kemudian kambing.
Penemuan dua jasad anonim
itu menjadi pergunjingan warga kampung yang sebagian besar didatangkan
dari pulau Jawa. Kepala desa, yang berkunjung ke kecamatan tiap akhir
bulan pernah mengadukan perihal itu kepada camat serta Babinsa. Tapi ia
hanya kembali membawa janji bahwa akan ada aparat yang dikirim seminggu
sekali ke kampungnya. Sudah dua tahun mereka disana, nyatanya tak
sekalipun ada aparatur pemerintahan yang mengunjungi.
Dengan
inisiatif kepala desa dan hasil urun rembug warga, mereka menyepakati
untuk mengadakan ronda tiap malam. Dua bulan berlalu sejak kematian
kambing terakhir kali. Warga masih berjaga-jaga. Namun, di malam pertama
memasuki bulan yang ketiga. Saat bulan hilang sempurna di balik
perbukitan, suara lolong yang ringkih menuruni bukit.
Suaranya
seperti langkah kaki laki-laki tua yang diseret. Menyapu hutan dari
puncak melewati lereng yang senyap. Suasana kematian yang menyergap
perkampungan itu. Tak ada yang percaya mereka menemukan jasad lagi. Kali
ini seekor anjing berburu milik kepala desa.
----
Kampung
itu berada persis di hadapan bukit lolong itu. Jika digambarkan
perkampungan itu seolah-olah ada di dekapan sang bukit dengan lereng di
kiri dan kanannya yang serupa lengan raksasa. Meski sudah memasuki tahun
ketiga belum ada satupun warga yang naik kesana. Meski hanya sebatas
mengambil kayu-kayu dan ranting kering dari dahan-dahan tua yang patah.
Dari
perbatasan antara kebun warga dan pintu rimbanya tampak jelas terlihat
bahwa bukit itu memiliki suatu keanehan. Ia tak dilahirkan dengan cara
yang biasa. Seperti anak-anak yang tak diharapkan. Dibuang dan menjadi
makhluk setengah manusia dan setengah setan. Di puncak bukit itu
berbaris rapi seribu batang bambu. Ia lambai ke kanan dan ke kiri.
Seperti sesuatu yang dipersiapkan untuk menyambut. Atau juga melepas.
Bukan
itu saja yang membuat bukit itu tak biasa. Dia juga bernafas. Sekali
waktu ia seperti lolong serigala, dilain waktu ia juga seperti setengah
berteriak. Seperti suara wanita yang dicekik tenggorokannya. Ia begitu
lirih. Menyiksa telinga siapa saja yang mendengar.
Dan sejak
kematian-kematian yang tak bisa dijelaskan dan tak boleh diceritakan
itu, warga menamai bukit itu dengan nama bukit Sukmailang. Ya, sukma
yang hilang.
----
Keganjilan-keganjilan itu terus terjadi
tanpa ada yang berani membahas ataupun menceritakan. Warga percaya bahwa
ada sesuatu diluar alam pikir mereka yang melakukan hal itu. Nafas
bukit itu, misalnya, ia dipercaya sebagai tanda bahwa ada kekuatan yang
tak terjelaskan mampu melakukan perbuatan-perbuatan mengerikan itu. Yang
mereka yakini adalah bahwa sepanjang sejarah berdirinya kampung itu,
hanya ayam, anjing, kambing, sapi, dan kerbau saja yang sepenuhnya milik
warga kampung. Sementara jasad-jasad manusia yang mati tak pernah ada
yang mengenali dan bukan bagian dari kampung yang di dekap bukit itu.
Oleh
karenanya tak pernah ada keinginan dari warga untuk mengusut
jasad-jasad milik siapa saja yang telah mereka makamkan di perbatasan
hutan setan itu. Bagi mereka itu sama saja merusak keseimbangan alam.
Tabu yang diwariskan dari keturunan ke keturunan.
Namun benteng
pertahanan yang semula dibangun warga kampung dengan tidak menceritakan
dan membahas segala hal buruk di desa itu akhirnya runtuh pada suatu
malam. Ketika suara perempuan yang dicekik lehernya meliuk melintasi
lereng-lereng bukit, memasuki ladang dan sawah warga sebelum tiba di
perkampungan.
Perempuan-perempuan itu seperti berkerumun di
tengah-tengah kampung. Suaranya saling bersaut-sautan. Saling mencekik
dan saing berteriak. Serak yang maut. Kematian yang mengetuk dan memekik
di pintu rumah warga kampung.
Anak-anak telah menjadi begitu
histeris. Tak kalah suara para wanita di dalam rumah ikut menyayat hati
yang mendengarkan. Mereka telah menjadi serigala. Lolongannya
meremangkan bulu kuduk siapa saja yang mendengar.
Suara
setan-setan betina yang datang dari bukit itu telah rasuk ke dalam tubuh
anak-anak dan wanita di kampung itu. Seisi kampung hanya diisi suara
tangis dan teriak yang memekik. Hanya laki-laki yang tak dirasuki. Namun
betapapun kuat telinga mereka mendengarkan, hati mereka tak
sungguh-sungguh mampu menahan jerit dan tangis anak dan isteri mereka.
Sungguh
tak ada kemampuan mereka untuk mengusir lolong dan leher-leher yang
tercekik dari isteri dan anak-anak mereka. Hanya kematianlah yang
mungkin menenangkan mereka juga agar bukit itu menghidu kembali.
Dan
sebelum pagi benar-benar tiba di kampung itu, suara perempuan-perempuan
yang tenggorokannya saling mencekik itu telah kembali ke bukit
Sukmailang. Bersama sukma seisi kampung.
Depok, 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar