"Sepagi ini semua sudah gaduh. Ayam gaduh. Dapur gaduh. Jalanan gaduh. Televisi gaduh."
Pagi
kian ranggas. Cuaca merampas semua keheningan yang semestinya dipanen
pagi. Kokok ayam yang terburu-buru, Ibu dan konspirasi bumbu serta
meruap kaldu, serta lagu-lagu yang saling memburu sejak pukul 5. Di
RCTI, SCTV, juga dari chanel baru.
Aku yang kehilangan atau aku
yang ketinggalan. Seolah-olah semua saling berlesatan. Tak ada waktu
untuk sekadar duduk-duduk, bercumbu apalagi memacurindu. Konsep
keheningan dirampas semua konsep akan kebendaan. Yang imateril akhirnya
hilang bentuk. Terpinggirkan dari keheningannya sendiri.
Ia telah
jadi semacam nostalgia. Sebuah momen ketimbang sebuah peristiwa.
Beruntung kalau kita punya yang seketika sebatas memutar kembali cakram
di kepala lantas tersenyum bahagia. Sepi, hening, telah larut sendiri
dalam urutan yang paling bungsu dalam kehidupan.
Kesulungannya
telah direnggut sejak kita tak lagi mengingat bahwa semula dunia ini tak
ada isinya. Gelap gulita. Betapa diri kita telah jadi titik dari
kehidupan itu sendiri. Kita yang mengutamakan kita. Kita merampas yang
bukan hak kita.
Kita letakkan diri kita sebagai poros dari segala
sesuatu yang berputar disekelilingnya. Kita tak lagi menikmati yang
mengamati. Seolah-olah dunia ini telah selesai dirumuskan. Maka tak
penting lagi mengambil peran sebagai penonton.
Keterburu-buruan,
kebergegasan, tenggat waktu, orientasi pada kedirian, telah melenyapkan
sesuatu yang tak ternilai. sebuah maha yang dicapai Sidharta Gautama
justru bukan dari keempatnya.
Betapa sesungguhnya keinginan untuk memikirkan kepentingan yang bukan demi diri sendiri itulah yang kepentingan terbesar.
2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar